Home > pertanian, pupuk > Guano

Guano

Kotoran kelelawar yang sering disebut guano, ternyata menyimpan potensi besar sebagai pupuk organik. Sekitar 1.000 gua di Indonesia diprediksi berpotensi menjadi salah satu solusi atas problem kesulitan pupuk di negara kita saat ini.

Kotoran kelelawar yang sering disebut guano, ternyata menyimpan potensi besar sebagai pupuk organik. Sekitar 1.000 gua di Indonesia diprediksi berpotensi menjadi salah satu solusi atas problem kesulitan pupuk di negara kita saat ini.
Salah satu penelitian yang mampu membuktikan kegunaan guano sebagai bahan dasar pupuk organik adalah penelitian Universitas Cornell di New York-Amerika Serikat. Hasil penelitian yang dilansir dalam situs http://www.css.Cornell menyatakan bahwa guano memiliki tingkat nitrogen terbesar setelah kotoran merpati. Namun, menduduki urutan pertama dalam bagian kadar unsur fosfat dan menduduki urutan ketiga terbesar bersama kotoran sapi perah dalam kadar kalium.
Dari keterangan tersebut guano kelelawar mengandung paling banyak fosfat. Fosfat merupakan bahan utama penyusun pupuk di samping nitrogen dan Potasium. Di samping tiga unsur utama tersebut, guano mengandung semua unsur atau mineral mikro yang dibutuhkan tanaman. Tidak seperti pupuk kimia buatan, guano tidak mengandung zat pengisi. Guano tinggal lebih lama dalam jaringan tanah, meningkatkan produktivitas tanah dan menyediakan makanan bagi tanaman lebih lama dari pada pupuk kimia buatan.
Indonesia sendiri sebagai negara agraris seharusnya melihat potensi ini. Sebagian besar industri pertanian tersebut pasti membutuhkan pupuk sebagai pendukung keberhasilan.
Namun, hingga kini untuk memenuhi permintaan petani terhadap pupuk, pemerintah masih mengandalkan impor terhadap bahan dasar pupuk tersebut. Misalnya, untuk membuat pupuk TSP (Triplesuperphosphate), hampir 100% bahan dasarnya diimpor.
Sebagai contoh, menurut data Statistik Impor, Indonesia telah mengimpor triplesuperphosphate pada Mei 2001 sebanyak 7.570 ton dengan nilai US$ 892.847 atau sekitar Rp 8.035.623.000 atau sekitar 8 triliun per bulan. Sehingga hal ini diperkirakan dalam satu tahun menghabiskan devisa sekitar 96 triliun rupiah. Jelas hal ini amat merugikan kita.
Indonesia mempunyai banyak kekayaan hayati, baik flora maupun fauna, namun belum mengetahui atau belum dapat mengelola sumberdaya tersebut sebagai pemenuhan berbagai kebutuhan hidup manusia.
Pada akhirnya, sumberdaya tersebut banyak dieksploitasi asing dengan harga murah dan dijual kembali ke Indonesia dengan berbagai kemasan dan harga yang lebih mahal. Seperti halnya pupuk TSP, kita mengimpor total bahan tersebut padahal Indonesia sendiri mempunyai banyak potensi.

Sumber : SH  di  situs hijau

Categories: pertanian, pupuk Tags: , ,
  1. Anton
    June 17, 2010 at 08:27

    saya ada kotoran kelelawar satu ton. Apakah pupuk guano yang dimaksud berasal dari gua sehingga bercampur tanah atau yang murni?

  2. J-K
    July 8, 2010 at 11:36

    Saya pikir pupuk guano itu adalah pupuk berbahan utama guano yg telah dicampur bahan lainnya seperti EMT. Menurut saya,prinsip dari pupuk guano persis dengan pupuk bokashi yg berbahan utama kotoran sapi

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: