Agrica

Archive for the ‘ilmu tanah’ Category

Konservasi dan Pengelolaan Sungai

Posted by agrica on January 15, 2009

Lapisan air menduduki 2/3 dari luas keseluruhan bumi kita ini, sedangkan sisanya berupa daratan. Pada dasarnya jumlah air yang terdapat di bumi kita tidak pernah habis, dan air mengalami daur (siklus) yang tiada henti-hentinya berlangsung secara periodik yang siklusnya dipengaruhi oleh sinar matahari, angin, tanaman, pegunungan dll.

Indeks ketersediaan air semakin menurun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, salah satu tandanya yaitu defisitnya DAS. Mengingat hal tersebut maka perlu dilakukan peningkatan ketersediaan air. Salah satu solusinya yaitu mengambil langkah-langkah pengembangan teknologi, penyediaan air, pelestarian sumber daya air dan meningkatkan konservasi air dan pengelolaan sungai.

1. Konservasi daerah pengaliran sungai

Konservasi ini dilakukan karena maraknya eksploitasi sumberdaya alam tanah, hutan, dan air. Dampaknya akan mengubah tata air seperti banjir, kekeringan, serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi. Teknologi yang dilakukan dalam konservasi ini yaitu metode Vegetatif dan metode Teknik Sipil.

Metode vegetatif yaitu menggunakan tanaman untuk mengurangi daya perusak hujan yang jatuh, sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Yang termasuk dalam metode ini yaitu reboisasi yaitu penanaman pohon di kawasan hutan dan luar hutang dengan menggunakan tanaman tahunan

Metode sipil yaitu pembuatan bangunan sipil untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kegunaan tanah, serta memperbesar infiltrasi air kedalam tanah. Yang termasuk dalam metode ini yaitu : bendungan pengendali, waduk, tanggul, teras, pembuatan irigasi pada daerah pertanian, guludan, dll. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Aluminium (Al)

Posted by agrica on January 14, 2009

Aluminium oksida adalah sebuah senyawa kimia dari aluminium dan oksigen, dengan rumus kimia Al2O3. Nama mineralnya adalah alumina, dan dalam bidang pertambangan, keramik dan teknik material senyawa ini lebih banyak disebut dengan nama alumina.

Sifat-sifat

Aluminium oksida adalah insulator (penghambat) panas dan listrik yang baik. Umumnya Al2O3 terdapat dalam bentuk kristalin yang disebut corundum atau α-aluminum oksida. Al2O3 dipakai sebagai bahan abrasif dan sebagai komponen dalam alat pemotong, karena sifat kekerasannya.

Aluminium oksida berperan penting dalam ketahanan logam aluminium terhadap perkaratan dengan udara. Logam aluminium sebenarnya amat mudah bereaksi dengan oksigen di udara. Aluminium bereaksi dengan oksigen membentuk aluminium oksida, yang terbentuk sebagai lapisan tipis yang dengan cepat menutupi permukaan aluminium. Lapisan ini melindungi logam aluminium dari oksidasi lebih lanjut. Ketebalan lapisan ini dapat ditingkatkan melalui proses anodisasi. Beberapa alloy (paduan logam), seperti perunggu aluminium, memanfaatkan sifat ini dengan menambahkan aluminium pada alloy untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi.

Al2O3 yang dihasilkan melalui anodisasi bersifat amorf, namun beberapa proses oksidasi seperti plasma electrolytic oxydation menghasilkan sebagian besar Al2O3 dalam bentuk kristalin, yang meningkatkan kekerasannya. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , | Leave a Comment »

Daftar Istilah Penginderaan Jauh / Remote Sensing

Posted by agrica on January 13, 2009



Istilah

Keterangan</TH< tr>

Penginderaan Jauh

Pengumpulan dan pencatatan informasi tanpa kontak langsung pada julat elektromagnetik ultraviolet, tampak, inframerah dan mikro dengan mempergunakan peralatan seperti penyiam (scanner) dan kamera yang ditempatkan pada wahana bergerak seperti pesawat udara atau pesawat angkasa dan menganalisis informasi yang diterima dengan teknik interpretasi foto, citra dan pengolahan citra (Fussel, Rundquist dan Harrington, 1986). Istilah ini juga memiliki pengertian yang sama untuk Remote Sensing (Inggris), Teledetection (Perancis) dan Sensoriamento Remoto (Spanyol)

Satelit (Oxford, Miriam Webster, Britannica)

  • yang selalu mengikuti (minion, sycophant)
  • benda angkasa (alam/buatan) yang mengitari benda angkasa lain yang berukuran lebih besar
  • benda buatan / kendaraan yang dirancang mengitari bumi, bulan atau benda angkasa lain
  • seseorang yang selalu mengikuti, bergantung atau mengekor (khususnya dalam politik kenegaraan)
  • suatu masyarakat perkotaan mandiri yang terpisah dari kota induk.

</TD< tr>

Orbit (Oxford, Miriam Webster, Britannica)

  • Bidang eliptik yang ditempuh benda angkasa secara reguler
  • Jalur (trajectory) yang ditempuh satelit ketika mengitari bumi
  • Medan/lingkungan kegiatan atau pengaruh

</TD< tr>

Orbit geostasioner (sinkron bumi)

Orbit suatu benda angkasa yang sedemikian hingga posisi benda tersebut terhadap satu titik di permukaan bumi tetap. Orbit ini mengharuskan kecepatan angular satelit sama dengan kecepatan angular bumi</TD< tr>

Orbit sinkron matahari (sunsynchronous)

Orbit suatu banda angkasa yang sedemikian hingga kemunculan satelit di atas suatu lokasi terjadi pada waktu matahari yang sama</TD< tr>

Nadir

Titik yang berada tepat tegak lurus satelit di permukaan bumi</TD< tr>

Zenit

Titik yang berada tepat tegak lurus satelit</TD< tr>

Perangkat pengindera

  • Perangkat yang dipergunakan untuk mengindera permukaan bumi dengan metode tertentu pada spectrum dan resolusi tertentu. Perangkat pengindera dapat berupa pengindera pasif, (hanya menyerap energi yang datang dari alam sekitar, seperti spectrum ultra ungu, tampak, infra merah, termal dan gelombang mikro pasif); serta pengindera aktif (sumber energi dibangkitkan oleh perangkat pengindera yang bersangkutan, seperti RADAR, LASER dan LIDAR). Tipe perangkat pengindera dapat berupa radiometer, sensor magnetic, gravimeter, spectrometer, kamera (fotografis/video/digital), scanner, altimeter, laser distance meter, radar dll.
  • Perangkat yang mengumpulkan energi, mengubahnya menjadi nilai digital dan menyajikannya menjadi bentuk yang sesuai untuk mendapatkan informasi tentang lingkungan sekitar.

</TD< tr>

Citra

Gambaran kenampakan permukaan bumi hasil penginderaan pada spectrum elektromagnetik tertentu yang ditayangkan pada layar atau disimpan pada media rekam/cetak</TD< tr>

Citra Satelit

Citra hasil penginderaan suatu jenis satelit tertentu</TD< tr>

Foto

Penginderaan suatu objek melalui lensa kamera dan merekam datanya pada suatu lapisan selulosa peka cahaya</TD< tr>

Foto digital

Foto yang tidak mempergunakan lapisan selulosa untuk merekam data tetapi mempergunakan lapisan peka cahaya yang dihubungkan dengan media rekam digital</TD< tr>

Foto udara

Foto yang diambil dari wahana pesawat layang atau pesawat terbang</TD< tr>

Foto satelit

Foto yang diambil dari wahana ruang angkasa</TD< tr>

RADAR

Radio Detection and Ranging. Pertama kali dipergunakan untuk keperluan pendeteksian pesawat terbang, baru kemudian dikembangkan untuk penginderaan jauh. Spektrum yang dipergunakan terdiri dari P (30-100cm), L (15-30cm), S (7.5-15cm), C (3.75-7.5cm), X (2.4-3.75cm), Ku (1.67-2.4cm), K (1.1-1.67cm), dan Ka (0.75-1.1cm). Tidak seperti citra lainnya, citra Radar harus mengalami transformasi terlebih dulu sebelum dapat dianalisis visual</TD< tr>

SLAR

Sideways Looking Airborne Radar. Radar yang diusung oleh pesawat terbang dengan antena dipasang menghadap ke samping. Peningkatan kualitas resolusi dilakukan dengan memperpanjang antenna. Sistem ini dinamakan juga Real Aperture Radar</TD< tr>

SAR

Synthetic Aperture Radar. Sistem yang berupaya meningkatkan resolusi citra RADAR dengan memasang antenna jamak. Pada aplikasi penginderaan jauh, fungsi antena jamak digantikan dengan pergerakan wahana.</TD< tr>

IFSAR

Interferometric Synthetic Aperture Radar. Sistem yang berupaya meningkatan resolusi citra RADAR (SAR) dengan dengan metode interferometri</TD< tr>

Polarimetri

Upaya peningkatan kemampuan pengenalan karakteristik objek dengan mengubah polarisasi arah pancaran dan penerimaan sinyal Radar.</TD< tr>

LASER

Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan intensitas pancaran cahaya pada spectrum tertentu sehingga mampu mencapai jarak yang jauh dan terarah dengan tepat dengan suatu perangkat.</TD< tr>

LIDAR

Light Detection and Ranging. Sistem ini berbasis pengukuran jarak dengan perangkat LASER. Biasanya dimanfaatkan untuk pemetaan kontur topografis dan batimetris (laut dangkal)</TD< tr>

Resolusi

  • Ukuran ketelitian data citra satelit
  • Kemampuan menampilkan sejumlah pixel pada layer tayangan
  • Kemampuan semua jenis pengindera (lensa, antenna, tayangan, bukaan rana, dll.) untuk menyajikan citra tertentu dengan tajam. Ukuran dapat dinyatakan dengan baris per mm atau meter. Pada citra RADAR resolusi biasa dinyatakan dalam lebar pancaran efektif dan panjang jangkauan. Pada citra infra merah resolusi biasa dinyatakan dalam IFOV. Resolusi juga dapat dinyatakan dalam perbedaan temperatur atau karakter lain yang mampu diukur secara fisik (Manual of Remote Sensing).

</TD< tr>

Resolusi spectral

Julat (range) spectrum elektromagnetik yang dipergunakan oleh perangkat pengindera. Secara sederhana, spectrum elektromagnetik yang dimanfaatkan untuk mengindera permukaan bumi terdiri dari spectrum ultra ungu, tampak (ungu=0.440-0.446;biru=.0446-.500; hijau=0.500-0.578; kuning=0.578-0.592; jingga=0.592-0.620; merah=0.620-0.700), infra merah dekat (reflektif), infra merah tengah (inframerah gelombang pendek/reflektif dan emisif), infra merah termal (emisif) dan gelombang mikro, juga LASER dan LIDAR. Pada beberapa kasus, spectrum tersebut masih dibagi lagi menjadi julat yang lebih sempit.</TD< tr>

Resolusi spasial

Ukuran objek terkecil yang dapat dibedakan dengan objek lain. Pada citra raster berarti ukuran 1 (satu) pixel data di lapangan. Pada citra optik (fotografik) dapat diartikan ukuran 1 (satu) detik busur medan pandang di lapangan</TD< tr>

Resolusi temporal

Ukuran perulangan pengambilan data oleh satelit tersebut pada lokasi yang sama di permukaan bumi</TD< tr>

Resolusi radiometrik

Julat (range) representasi/kuantisasi data, biasanya dipergunakan untuk format raster. Julat tersebut dapat berupa 2 bit (0-1), 3 bit (0-3), 4 bit (0-15), 5 bit (0-31), 6 bit (0-63), 7 bit (0-127), 8 bit (0-255), 10 bit (0-1023), 16 bit (0-65535)</TD< tr>

Dot pitch

  • Ukuran titik terkecil pada hasil cetakan, biasanya dinyatakan dalam dot per inch (dpi)
  • Ukuran satu pixel pada layar tayang, biasanya dinyatakan dalam mm

</TD< tr>

Pandangan sinoptik

Kemampuan melihat atau mengukur suatu wilayah dalam waktu dan kondisi yang sama</TD< tr>

Band

  • Disebut juga channel atau saluran. Suatu julat spectrum elektromagnetik yang dirancang untuk kepentingan misi tertentu pada sebuah pengindera. Sebuah pengindera sekurang-kurangnya memiliki satu saluran.
  • Sekumpulan data berisi nilai-nilai yang disimpan dalam suatu berkas (file) yang menggambarkan spectrum elektromagnetik tertentu.
  • Sekumpulan data berisikan hasil proses (penisbahan, penambahan, dll.) band-band yang lain.

</TD< tr>

Layer

Suatu liputan geografis yang berisikan jenis informasi tertentu. Bermacam jenis informasi pada liputan geografis yang sama disebut multi layer. Untuk konteks citra penginderaan jauh digital, layer dan band mengandung pengertian yang sama. </TD< tr>

Multispektral

Perangkat pengindera yang terdiri atas kurang dari 10 (sepuluh) spectrum elektromagnetik yang berbeda</TD< tr>

Hyperspektral

Perangkat pengindera yang terdiri atas lebih dari 10 (sepuluh) spectrum elektromagnetik yang berbeda</TD< tr>

Stasion Bumi

Stasiun yang berfungsi mengendalikan operasi satelit, mengendalikan komunikasi satelit serta menerima/mengirimkan data hasil penginderaan satelit. Sebuah stasiun bumi sekurang-kurangnya terdiri dari system antenna (beserta pengarahnya) dan komputer pengendali.</TD< tr>

Wahana

Benda buatan manusia yang berpijak pada perangkat (menara, kran, pohon, tangga, bukit dll.), yang melayang, yang terbang di atas permukaan bumi (wahana dirgantara) atau mengorbit bumi (wahana angkasa) yang dipergunakan sebagai landasan perangkat pengindera. Benda yang melayang biasanya berupa balon udara. Benda yang terbang dapat berupa pesawat terbang atau pesawat layang baik berawak maupun tidak. Benda yang mengorbit dapat berupa satelit, pesawat ruang angkasa maupun stasiun ruang angkasa. Benda yang mengorbit tersebut dirancang untuk penginderaan bumi (sumberdaya alam, cuaca, militer), penginderaan angkasa, komunikasi, penentuan posisi (GPS), dll.</TD< tr>

Landsat

Seri satelit sumberdaya alam milik NASA (Amerika Serikat). Sebelumnya bernama Earth Resources Technology Satellite (ERTS). Landsat 1 diluncurkan 23 Juli 1972, diikuti kemudian oleh Landsat 2 (22 Januari 1975), Landsat 3 (5 Maret 1978). Satelit ini mengusung pengindera MSS dan RBV. Pengindera ini berkembang menjadi TM (Landsat 4 dan 5) kemudian ETM+ (Landsat 7)</TD< tr>

RBV

Return Beam Vidicon. Kamera RBV terdiri dari:

  • RBV 1 0.46 – 0.59 (biru hijau)
  • RBV 2 0.58 – 0.69 (kuning merah)
  • RBV 3 0.66 – 0.83 (merah infra merah)

</TD< tr>

MSS

Multi Spectral Scanner. Pengindera MSS terdiri dari:

  • MSS 1 0.5 – 0.6 80m
  • MSS 2 0.6 – 0.7 80m
  • MSS 3 0.7 – 0.8 80m
  • MSS 4 0.8 – 1.1 80m

</TD< tr>

TM

Thematic Mapper. Pengindera TM terdiri dari:

  • TM 1 0.45 – 0.52 30m (biru)
  • TM 2 0.52 – 0.60 30m (hijau)
  • TM 3 0.63 – 0.69 30m (merah)
  • TM 4 0.76 – 0.90 30m (infra merah dekat)
  • TM 5 1.55 – 1.75 30m (infra merah gelombang pendek/SWIR)
  • TM 6 10.40 – 12.50 120m (infra merah thermal)
  • TM 7 2.08 – 2.35 30m (infra merah tengah)

</TD< tr>

ETM+

Enhanced Thematic Mapper Plus. Pengindera ETM+ pada dasarnya masih sama dengan pengindera TM. Perbedaannya adalah ETM 6 ditingkatkan resolusinya menjadi 60m dan penambahan satu band pankromatik (0.52 – 0.90) dengan resolusi 15m</TD< tr>

SPOT

Satellite Pour l’Observation de la Terre (sebelum diluncurkan huruf P berarti Probatoire, setelah diluncurkan menjadi Pour). Seri satelit milik CNES, Perancis. Satelit ini mengusung pengindera HRV (SPOT 1,2,3,4) kemudian dikembangkan menjadi HRG (SPOT 5). Satelit ini mengorbit pada ketinggian 830km, inklinasi 80, sekitar 101menit/revolusi dan resolusi temporal 26 hari</TD< tr>

HRV

Haute Resolution Visible. Pengindera HRV terdiri dari dua kelompok, yaitu P (panchromatic) dan XS (multi spetral). Rinciannya adalah sbb.:

  • P 0.51 – 0.73 10m
  • XS1 0.5 – 0.59 20m (hijau)
  • XS2 0.61- 0.68 20m (merah)
  • XS3 0.79- 0.89 20m (inframerah dekat)

</TD< tr>

HRG

Haute Resolution Geographique</TD< tr>

VGT

Végetation. Pengindera tambahan yang diusung oleh SPOT 4 dengan rincian:

  • B 0 0.430 – 0.470 1160m (biru)
  • B 1 0.610 – 0.680 1160m (merah)
  • B 2 0.790 – 0.890 1160m (inframerah dekat)
  • B 3 1.580 – 1.750 1160m (inframerah gelombang pendek)

Pengindera ini mempergunakan metode penyiaman elektronik (CCD) </TD< tr>

IRS

Seri satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari milik India</TD< tr>

ADEOS

Advanced Earth Observing Satellite. Satelit sumberdaya alam milik NASDA, Jepang dengan misi pemantauan lingkungan global, ozon atmosfer dan gas pemicu pemanasan global. Diluncurkan Agustus 1996 dengan orbit sinkron matahari dan periode revolusi 101 menit, mengusung pengindera AVNIR (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer), OCTS, NSCAT, TOMS, POLDER, IMG, ILAS dan RIS. ADEOS I diluncurkan tahun 2001 dan mengusung pengindera AMSR, GLI, SeaWinds, POLDER, ILAS-II, PDL, C&DH, IOCS, MDP, DTL, DTL-ANT, DT, CCR, DCS, DCS-ANT, dan ESA</TD< tr>

AVNIR

Advanced Visible and Near Infrared Radiometer. Pengindera terdiri dari:

  1. 16m (biru)
  2. 16m (hijau)
  3. 16m (merah)
  4. 16m (inframerah dekat)
  5. 8m (pankromatik)

Pengindera mempergunakan metode penyiaman elektronik (CCD) </TD< tr>

OCTS

Ocean Color and Temperature Scanner. Pengindera terdiri dari:

  1. 700m
  2. 700m
  3. 700m
  4. 700m
  5. 700m
  6. 700m
  7. 700m (inframerah dekat)
  8. 700m (inframerah dekat)
  9. 700m (inframerah tengah)
  10. 700m (inframerah tengah)
  11. 700m (inframerah tengah)

Pengindera mempergunakan metode penyiaman mekanik </TD< tr>

IMG

Interferometric Monitor for Greenhouse Gases. Pengindera terdiri dari:

  1. 3.3 – 4.3
  2. 4.0 – 5.0
  3. 5.0 – 14.0

</TD< tr>

ALOS

Advanced Land Observing Satellite. Seri satelit sumberdaya alam milik NASDA, Jepang, diluncurkan awal 2003</TD< tr>

ERS

Seri satelit Radar berorbit sinkron matahari milik ESA</TD< tr>

JERS

Japan E.. Resources Satellite. Seri satelit Radar berorbit sinkron matahari milik NASDA, Jepang, biasa dipanggil Fuyo-1</TD< tr>

Radarsat

Satelit Radar milik Canada </TD< tr>

Almaz

Seri satelit Radar milik Russia</TD< tr>

GMS

Geostationary Meteorological Satellite. Satelit cuaca berorbit geostasioner milik NASDA, Jepang, biasa dipanggil Himawari. Satelit GMS-5 diluncurkan awal 1995. Misi utama adalah melakukan pengamatan kontinyu terhadap atmosfer dan informasi meteorology permukaan bumi melalui perangkat VISSR. Orbit satelit ini berada di atas bujur 1400E dan mengirimkan data ke bumi setiap 30 menit.</TD< tr>

NOAA

National Oceanic and Atmospheric Administration. Satelit berorbit sinkron matahari milik NOAA, Amerika Serikat yang misi utamanya adalah pemantauan cuaca. Satelit NOAA dikembangkan dari seri satelit TIROS (Television and Infrared Observation ). Satelit TIROS kemudian digantikanmenjadi TOS (TIROS Operational System) yang kemudian menjadi seri ESSA (Environmental Science Service Administration). ESSA kemudian dikembangkan menjadi seri ITOS (Improved TIROS Operational System) disusul seri NOAA. Seri satelit NOAA terdiri dari generasi I (TIROS-N/NOAA 1-5), generasi II (Advanced TIROS-N/ATN/NOAA 6-14) dan generasi III (NOAA K, L, M). Pengindera yang diusung satelit ini pada umumnya adalah AVHRR (pengembangan dari VHRR) dan TOVS (TIROS Operational Vertical Sounder). Setiap satelit biasanya juga masih mendapatkan tambahan perangkat pengindera lain sesuai dengan misi.</TD< tr>

Foto satelit

Foto yang diambil dari wahana ruang angkasa</TD< tr>

AVHRR

Advanced Very High Resolution Radiometer. Pengindera AVHRR terdiri dari:

  1. 0.58 – 0.68 1100m (merah)
  2. 0.725- 1.1 1100m (inframerah dekat)
  3. 3.55 – 3.93 1100m (inframerah tengah)
  4. 10.3 – 11.3 1100m (inframerah termal)
  5. 11.5 – 12.5 1100 m (inframerah termal)

Pengindera AVHRR biasanya dimanfaatkan untuk studi atmosfer, tetapi kemudian juga berkembang untuk studi kelautan, es, juga kebakaran lahan. Format data yang disebarluaskan terdiri dari LAC (Local Area Coverage/ terekam dengan resolusi 1 km-10 bit data), GAC (Global Area Coverage/ terekam dengan resolusi 4 km-10 bit data) , HRPT (High Resolution Picture Transmission/ transmisi data langsung ke stasiun bumi dengan resolusi 1km-10 bit data) dan APT (Automatic Picture Transmission/ transmisi data langsung ke stasiun bumi dengan resolusi 1km – 8 bit data) </TD< tr>

TOVS

TIROS Operational Vertical Sounder</TD< tr>

NAVSTAR

Navigation Satellite Time and Ranging. Seri satelit GPS milik US Departement of Defense. Satelit ini tersusun dalam konstelasi yang terdiri atas 21 satelit aktif dan 3 cadangan. Konstelasi tersebut sedemikian hingga agihannya pada zenith merata.</TD< tr>

Terra

Satelit berorbit sinkron matahari milik NASA</TD< tr>

MODIS

Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer</TD< tr>

VISSR

Visible and Infrared Spin Scan Radiometer</TD< tr>

Ikonos

Satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari</TD< tr>

Quickbird

Satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari</TD< tr>

Pengolahan Citra

Disebut juga image processing. Kegiatan manipulasi citra digital yang terdiri dari penajaman, rektifikasi dan klasifikasi.</TD< tr>

Triangulasi

Proses penentuan elemen penting (jarak dan sudut) untuk menentukan jaringan ikatan di permukaan bumi pada kegiatan survei objek untuk menentukan posisi relatif terhadap suatu wilayah</TD< tr>

Triangulasi udara

Proses triangulasi yang dilakukan untuk mendapatkan kontrol horizontal dan vertical pada foto udara</TD< tr>

Koreksi geometri

Kegiatan ini juga sering dinamakan rektifikasi. Memperbaiki kemencengan, rotasi dan perspektif citra sehingga orientasi, projeksi dan anotasinya sesuai dengan yang ada pada peta. Koreksi geometri terdiri dari koreksi sistematik (karena karakteristik alat) dan non sistematik (Karena perubahan posisi penginderaan). Koreksi sistematik biasanya telah dilakukan oleh penyedia data. Koreksi non sistematik biasanya dilakukan dengan suatu proses koreksi geometri. Proses ini memerlukan ikatan yang disebut titik kontrol medan (ground control point/GCP). GCP tersebut dapat diperoleh dari peta, citra yang telah terkoreksi atau tabel koordinat penjuru. GCP kemudian disusun menjadi matriks transformasi untuk rektifikasi citra.</TD< tr>

Ortorektifikasi

Upaya rektifikasi untuk memperbaiki pergeseran relief (relief displacement). Upaya ini memerlukan data DEM (digital elevation model). Ortorektifikasi tidak dibutuhkan pada daerah yang relative datar</TD< tr>

Matriks transformasi

Suatu kumpulan koefisien yang dihitung dari GCP dan dipergunakan untuk menyusun persamaan polynomial untuk mengubah koordinat dari satu system kepada system lainnya. Ukuran matriks tergantung ordo transformasi.</TD< tr>

Koreksi radiometri

Koreksi variasi data yang tidak disebabkan oleh objek diindera, tetapi oleh malfungsi pengindera atau interferensi atmosfer.</TD< tr>

Mosaik

Hasil penggabungan beberapa liputan citra dengan luasan kecil menjadi satu liputan citra dengan luasan lebih besar. Mosaik dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang lokasi yang diamati.</TD< tr>

Penajaman citra

Proses perentangan kontras warna yang ditayangkan pada layer untuk memudahkan diferensiasi objek secara visual. Proses tersebut dapat mempergunakan metode peningkatan kontras, penajaman tepi, penapisan (filtering) dll.</TD< tr>

Filter

Alat yang dipergunakan untuk menapis/menyaring sesuatu sehingga diusahakan hanya menyisakan unsure-unsur yang diinginkan. Pada konteks Kimia, filter dapat berupa berupa zat dengan permeabilitas tertentu. Pada kontek Foto udara dapat berupa lapisan tembus cahaya berwarna tertentu untuk menyaring warna-warna tertentu. Pada konteks pengolahan citra dapat berupa suatu komposisi kernel yang jika dioperasikan pada suatu matriks citra akan mampu menonjolkan kenampakan tertentu (sesuai jenis filter/kernel yang dipakai).</TD< tr>

Klasifikasi

Proses pengolahan data citra menjadi peta tematik. Proses klasifikasi dapat berupa proses digital maupun proses manual.</TD< tr>

Elemen interpretasi

Elemen yang dipergunakan untuk menafsirkan suatu kenampakan pada citra. Elemen tersebut terdiri dari warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan, pola, tekstur, struktur, situs dan asosiasi. Ada objek yang dapat ditentukan hanya dengan satu elemen saja, tetapi ada juga yang baru dapat ditentukan setelah mengaji sembilan elemen interpretasi.</TD< tr>

Klasifikasi digital

Proses klasifikasi dengan mempergunakan metode kalkulasi algoritmis. Proses klasifikasi digital dapat berupa klasifikasi terselia (supervised/penentuan objek ditentukan penafsir) atau tak terselia (unsupervised/penentuan objek diserahkan kepada komputer)</TD< tr>

Klasifikasi multispektral

Proses klasifikasi digital yang dilakukan dengan citra multispektral</TD< tr>

GPS

Global Positioning System. Sistem Penentuan Posisi Global, yang terdiri dari ruas angkasa (satelit NAVSTAR), ruas darat (stasiun pengendali bumi) dan ruas pengguna (penerima sinyal).</TD< tr>

Media rekam

Media yang dipergunakan sebagai penyimpan data penginderaan jauh. Media rekam dapat berupa media cetak, fotografis (negatif, diapositif dan positif) atau media yang dapat dibaca computer (CCT, Exabyte, Disket, CD-ROM, MO, DVD, dll.)</TD< tr>

CCT

Computer Compatible Tape. Pita magnetic yang dipergunakan untuk menyimpan data baik citra satelit maupun data lainnya. CCT untuk keperluan penginderaan jauh, biasanya dipro-duksi dalam format gulungan sepanjang 2400ft (+800m) dengan kepadatan 6250 bpi</TD< tr>

Exabyte

Pita magnetic sejenis dengan CCT tetapi disusun dalam format kaset 4mm dan 2mm</TD< tr>

Format rekam

Perekaman data penginderaan jauh dalam format computer, secara umum dapat dibagi menjadi BSQ (band sequential), BIL (band interleaved line by line) dan BIP (band interleaved pixel by pixel). Program perangkat lunak pengolah citra biasanya memilih salah satu dari ketiganya kemudian ditambahi informasi lain seperti koordinat, kalibrasi dll.</TD< tr>

False color composite

Paduan warna terdiri atas band 4 3 2 (Erdas Field Guide). Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

Pseudo color composite

Paduan warna terdiri atas band 5 4 2 (Erdas Field Guide) atau 5 4 3. Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

True color composite

Paduan warna terdiri atas band 3 2 1 (Erdas Field Guide). Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

IFOV

Instantaneous Field of View. Medan pandang sesaat. Ukuran dari area yang dipandang oleh satu detector tunggal (satu pixel) pada system penyiam (scanning system) yang didapatkan dalam waktu sesaat.</TD< tr>

ILWIS

Integrated Land and Water Information System. Perangkat lunak pengolah data berbasis raster dan vector buatan ITC (International Institure for Aerospace Survey and Earth Sciences), Netherland. Sejak tahun pengembangan perangkat lunak ini masuk dalam kelompok PCI</TD< tr>

I2S

International Imaging System. Perangkat lunak pengolah data berbasis vector dan raster</TD< tr>

IDRISI

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster produksi Clark University, USA</TD< tr>

PCI Geomatics

Semula hanya bernama PCI, perangkat lunak pengolah data berbasis raster produksi PCI, Canada</TD< tr>

Erdas Imagine

Perangkat lunak pengolah data raster dan vector buatan Erdas, USA</TD< tr>

TNT Mips

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster</TD< tr>

MicroBrian

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster</TD< tr>

ER Mapper

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster buatan Earth Resources Mapping, Australia</TD< tr>

ENVI

The Environment for Visualizing Images, perangkat lunak pengolah data raster buatan Research System Inc.</TD< tr>

Indeks vegetasi

Proses perhitungan matematis dengan penisbahan (rasio) saluran satu dengan yang lain dengan maksud menonjolkan karakteristik vegetasi pada lokasi tersebut. Indeks yang paling banyak dikenal adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dengan formulasi NDVI= (infra merah – merah) / (infra merah + merah). Indeks lain seperti Indeks Kehijauan (GI), Indeks Kecerahan (BI), Indeks Kebasahan (WI), Indeks Luas Daun (LAI) dll.</TD< tr>

NASA

National Aeronautics and Space Administration. Lembaga Penerbangan dan Ruang Angkasa Amerika Serikat</TD< tr>

NASDA

Lembaga Ruang Angkasa Jepang</TD< tr>

CNSA

Canadian Lembaga Ruang Angkasa Canada</TD< tr>

DLR

Deutsche Luchtvaart für Raumfahrt. Lembaga Ruang Angkasa Jerman</TD< tr>

LAPAN

Lembaga Penerbangan dan Ruang Angkasa Nasional, Indonesia</TD< tr>

CNES

Centre Nationale d’Etude Spatiales. Lembaga Kajian Angkasa Perancis</TD< tr>

ISRO

Indian Space Research Organization. Lembaga Kajian Ruang Angkasa India</TD< tr>

Daftar Pustaka:

  • Digital Image-Based Mapping Systems, International Imaging System
  • Encyclopedia Britannica ed 2001
  • ERDAS Imagine Field Guide
  • Fussel, J., D. Rundquist, J.A. Harrington, Jr., 1986, On Defining Remote Sensing, Photog. Eng & Remote Sensing, vol 52, pp 1507-1511
  • Howard, J.A., 1991, Remote Sensing of Forest Resources, Chapman & Hall
  • The Integrated Land and Watershed Information System (ILWIS), ITC
  • LIDAR Technology, Terra Point
  • Manual of Remote Sensing, 2nd ed
  • Miriam-Webster Dictionary
  • Oxford Dictionary
  • Remote Sensing, no.31, May 2000
  • SPOT Image, The Catalogue of SPOT products and services, SPOT Image
  • THEMAP Measuring and Mapping the Environment, EnerQuest System LLC
  • Tutorial of Training on The Potential and Use of Low to Moderate Resolution Remote Sensing, GIS Application Center, AIT


Sumber : www.geocities.com

Posted in GIS / Remote Sensing, ilmu tanah | Tagged: , , , , , , , | Leave a Comment »

Rancangan Penelitian

Posted by agrica on January 11, 2009

A. Istilah Percobaan

Beberapa istilah dalam peneltian adalah perlakuan (treatment), aras (level), kontrol, satuan percobaan (experimental unit/plot), peubah, variasi (natural variation), rancangan perlakuan, rancangan percobaan, dan kelompok.

Perlakuan (Treatment)

Perlakuan dapat diartikan sebagai kondisi yang pengaruhnya diamati dalam penelitian. Perlakuan selalu terkait dengan pertanyaan atau hipothesis yang akan dijawab atau dibuktikan dalam percobaan.

Aras (level)

Aras merupakan perbedaan kondisi suatu perlakuan. Aras biasanya merupakan perluasan atau pengembangan dari perlakuan. Terdapat aras kualitatif dan aras kuantitatif. Aras kualitatif misalnya dalam kajian jenis obat dikaji obat sejenis tapi lain pabrik atau lain jenis molekulnya. Sedangkan aras kuantitatif adalah kadar dari obat yang diuji misalnya 1, 2 dan 3 ppm.

Kontrol (control)

Kontrol adalah standar perlakuan yang biasanya digunakan sebagai pembanding dalam mengkaji pengaruh perlakuaan. Kontrol pada umumnya diartikan sebagai tanpa perlakuan. Penggunaan kontrol dalam suatu percobaan sangat embantu dalam melihat pengaruh suatu perlakuan. Penggunaan kontrol memungkinkan peneliti dapat segera melihat kelemahan atau keunggulan dari perlakuan yang sedang dikaji.

(Satuan percobaan (experimental unit/plot)

Satuan percobaan adalah individu atau kelompok individu yang mendapat satu perlakuan. Pengukuran peubah dilakukan pada setiap satuan percobaan. Berbagai jenis pengukuran dapat dilakukan dalam setiap satu satuan percobaan.

Peubah (variable)

Peubah adalah penampilan unit percobaan yang diamati dan merupakan respon terhadap perlakuan. Contoh peubah adalah konsumsi ransum, produksi susu, bobot badan atau pertambahan bobot badan. Peubah yang diukur harus disesuaikan dengan tujuan penelitian atau hipothesis yang diuji dalam penelitian.

Keragaman (variation)

Keragaman adalah perbedaan nilai suatu peubah hasil pengukuran antara satu individu dengan individu lainnya yang diamati. Jika suatu kelompok ternak mempunyai keragaman genetis tinggi maka tampilan produksi ternak akan sangat beragam walaupun kondisi lingkungannya sama.

Kelompok (group/block)

Kelompok adalah sejumlah individu yang mempunyai kesamaan sifat tertentu. Pada percobaan biasanya dikenal pengelompokan satuan percobaan. Pengelompokan satuan percobaan dilakukan untuk mengurangi atau memisahkan sumber keragaman dalam suatu percobaan agar pengaruh perlakuan yang diuji lebih terlihat. Read the rest of this entry »

Posted in agronomi, ilmu tanah, pertanian, peternakan | Tagged: , , | 3 Comments »

Besi (Fe)

Posted by agrica on January 11, 2009

Besi adalah sejenis logam yang hadir dalam konsentrasi yang rendah dalam sebagian besar persediaan air. Besi dapat terlarut dalam air atau tampak dalam bentuk khusus. Air berkorosif dapat merusak besi pada saluran pipa. Besi dengan tingkat lebih dari 0.1 ppm pada umumnya dikategorikan bermasalah karena memiliki potensi berkarat. Besi yang terlarut biasanya berbentuk ferric bikarbonat, yang bening dan tidak berwarna. Ketika ferric bikarbonat bereaksi dengan udara maka akan berubah menjadi ferric hydroxide, yang berwarna merah-kecoklatan. Proses oksidasi ini dapat dipercepat dengan direaksikan dengan oksidan seperti pemutih klorin. Ferric hydroxide dapat menyebabkan pengkaratan dibanyak aplikasi. Air bersabun dapat menghilangkan jejak karat dari air namun besi tidak akan hilang dari air resin bersabun selama proses regenerasi. Garam pelarut besi dibutuhkan dalam air sabun jika terdapat kadar besi dalam air. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

Metode Penetapan Basa Tukar dan Kapasitas Tukar Kation didalam Tanah

Posted by agrica on January 11, 2009

Penetapan basa-basa tukar (Na+, K+, Ca2+, dan Mg2+) dan Kapasitas Tukar Kation (KTK) dapat dilakukan secara berurutan. Ekstraksi menggunakan prinsip pencucian unsur-unsur basa oleh suatu garam dalam suatu kolom tanah (perkolasi). Ekstraksi pertama menggunakan garam amonium asetat (CH3COO-NH4 atau NH4O Ac.) 1 N pH 7,0 akan mengenstrak semua kation-kation basa. Simpan ekstrak tersebut untuk penetapan basa-basa tukar (EKSTRAK I).

Setelah ekstraksi pertama misel tanah dijenuhi oleh ion NH4+. Selain berada di misel tanah, ion amonium juga menjenuhi larutan tanah. Untuk menghilangkan /membersihkan ion amonium yang berada pada larutan tanah, maka kolom perkolasi harus dibilas dengan alkohol 99%. Ekstrak dengan alkohol, dapat dibuang karena tidak digunakan dalam penetapan selanjutnya.

Setelah pencucian dengan alkohol dapat diyakini bahwa seluruh ion amonium hanya berada pada permukaan misel tanah. Prinsip ini yang nantinya digunakan untuk penetapan KTK. Ekstraksi dengan menggunakan KCL 0,1 N akan menggusur semua ion amonium yang ada pada permukaan misel. Ion NH4+ digantikan posisinya oleh ion K+. Ekstraksi dengan KCl 0,1 N akan digunakan dalam penetapan KTK (EKSTRAK II).

Hal yang perlu diperhatikan selama ekstraksi adalah jaga kolom perkolasi jangan sampai mengering, artinya proses pencucian harus berjalan kontinyu (tanah selalu tergenang) untuk mencegah terjadinga penguapan amonium. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , , | 2 Comments »

Bahan Organik

Posted by agrica on January 9, 2009

Pengertian

Bahan organik merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang.

Sumber Bahan Organik

Sumber primer bahan organik adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting, daun, dan buah. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut. Unsur karbon ini berada dalam bentuk senyawa-senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati, dan bahan- bahan pektin dan lignin. Selain itu nitrogen merupakan unsur yang paling banyak terakumulasi dalam bahan organik karena merupakan unsur yang penting dalam sel mikroba yang terlibat dalam proses perombakan bahan organik tanah. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah. Tumbuhan tidak saja sumber bahan organik, tetapi sumber bahan organik dari seluruh makhluk hidup.

Sumber sekunder bahan organik adalah fauna. Fauna terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah menyumbangkan pula bahan organik. Bahan organik tanah selain dapat berasal dari jaringan asli juga dapat berasal dari bagian batuan.

Perbedaan sumber bahan organik tanah tersebut akan memberikan perbedaan pengaruh yang disumbangkannya ke dalam tanah. Hal itu berkaitan erat dengan komposisi atau susunan dari bahan organik tersebut. Kandungan bahan organik dalam setiap jenis tanah tidak sama. Hal ini tergantung dari beberapa hal yaitu; tipe vegetasi yang ada di daerah tersebut, populasi mikroba tanah, keadaan drainase tanah, curah hujan, suhu, dan pengelolaan tanah. Komposisi atau susunan jaringan tumbuhan akan jauh berbeda dengan jaringan binatang. Pada umumnya jaringan binatang akan lebih cepat hancur daripada jaringan tumbuhan. Jaringan tumbuhan sebagian besar tersusun dari air yang beragam dari 60-90% dan rata-rata sekitar 75%. Bagian padatan sekitar 25% dari hidrat arang 60%, protein 10%, lignin 10-30% dan lemak 1-8%. Ditinjau dari susunan unsur karbon merupakan bagian yang terbesar (44%) disusul oleh oksigen (40%), hidrogen dan abu masing-masing sekitar 8%. Susunan abu itu sendiri terdiri dari seluruh unsur hara yang diserap dan diperlukan tanaman kecuali C, H dan O. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah, pertanian, pupuk | Tagged: , , , , | Leave a Comment »

LAPORAN ILMU UKUR TANAH DAN KARTOGRAFI

Posted by agrica on January 8, 2009

Mata kuliah Ilmu Ukur Tanah dan Kartografi adalah mata kuliah yang mempelajari tentang pengukuran tanah ataupun bangunan dan kemudian hasil pengukurannya dipetakan agar didapat gambaran wilayah yang jadi objek pengukuran.

Mata kuliah Ilmu Ukur Tanah dan Kartografi biasanya termasuk dalam kurikulum jurusan tehnik sipil, tehnik pertambangan dan ilmu tanah. Disini kami mau berbagi contoh laporan yang dikerjakan untuk mata kuliah tersebut.

UNDUH DISINI

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , , | 5 Comments »

Hidrologi, air tanah, siklus air, siklus hidrologi

Posted by agrica on January 8, 2009

Materi ini adalah bahan kuliah Agrohidrologi. Karena terlalu panjang untuk ditulis diblog ini, maka materi tersebut kami buat dalam bentuk file MS Word yang dapat di unduh  DISINI <—–====}}

Referensi bahan tulisan  :  www.malang.ac.id

rovicky.wordpress.com

www.batan.go.id

walhijabar.blogspot.com

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Pengukuran pH Tanah

Posted by agrica on January 3, 2009

Keasaman dalam larutan itu dinyatakan sebagai kadar ion hidrogen disingkat dengan [H+], atau sebgai pH yang artinya –log [H+]. Dengan kata lain pH merupakan ukuran kekuatan suatu asam. pH suatu larutan dapat ditera dengan beberapa cara antara lain dengan jalan menitrasi lerutan dengan asam dengan indikator atau yang lebih teliti lagi dengan pH meter.

pH berkisar antara 10-1 sampai 10-12 mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H, makin rendah –log [H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pada umumnya, keasaman tanah dibedakan atas asam, netral, dan basa. Ion H+ dihasilkan oleh kelompok organik yang dibedakan atas kelompok karboksil dan kelompok fenol.

Tipe keasaman aktif atau keasaman actual disebabkan oleh adanya Ion H+ dalam larutan tanah. Keasaman ini diukur menggunakan suspensi tanah-air dengan nisbah 1 : 1; 1 : 2,5; dan 1 : 5. Keasaman ini ditulis dengan pH (H2O). Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , | 3 Comments »