“Ingatlah akan asal-usulmu.”
– Donald Rumsfeld, Mantan Menteri Pertahanan Amerika
SEKARANG mari kita bicara soal kacang. Pernah merasakan es cincau dan es susu kacang sekaligus? Bila keduanya dicampur, bagaimana rasanya? Sudah jelas rasanya berubah. Rasanya tak beda dengan minum beraroma kola dicampur kopi tubruk. Pertempuran dalam mulut yang sama-sama kuat dan berakhir dengan musnahnya kedua rasa. Itu pengalaman seorang penggemar kuliner yang sempat merasakan dahsyatnya minuman yang dijual di sebuah kedai di Singapura. Setelah sempat kaget dengan rasa baru, eh, dia pun terkejut dengan nama minuman tersebut. Namanya, Es Michael Jackson. Lo, apa hubungannya? Jangan-jangan, Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek.
Tidak juga ternyata. Es Michael Jackson, mungkin aneh kedengarannya, tapi begitulah faktanya. Ia pun mencoba mencari tahu asal-usul nama es tersebut. Ia pun mereka-reka, pikirnya, hal itu diberikan untuk menyindir Michael Jackson yang aslinya hitam, tetapi kepingin menjadi putih dan malahan menjadi mirip topeng daripada manusia. Ketahuan sekarang rasanya susah dibedakan, bukan susu kacang, bukan juga es cincau.
Michael Joseph Jackson adalah legenda penyanyi dari Amerika Serikat. King of Pop, dulu sebutannya begitu, dengan gerakan dansa ‘moonwalk’ yang telah menjadi ciri khasnya. Sayang, dibalik gemerlap kesuksesannya di panggung hiburan, seperti membuatnya kurang percaya diri. Ketenaran dan uang yang berlimpah di usia muda, membuat Jacko, begitu panggilan akrabnya, bisa melakukan apa saja, termasuk melakukan operasi kulit dan wajahnya. Dimulai dengan mengubah bentuk hidungnya yang tidak mancung, Jacko pun mulai ketagihan operasi di wajah dan kulitnya plus pemutihan kulit, yang telah dilakukannya sejak umur duapuluhan. Khalayak luas menganggap Jacko telah melupakan asal-usulnya sebagai ras orang kulit hitam. Jacko dinilai tidak puas atas apa yang telah dianugerahi kepadanya. Kacang lupa pada kulitnya. Persis seperti minuman yang dijual di Singapura, tak jelas lagi perbedaan antara hitam atau putih. Tapi Jacko punya dalih. Katanya, ia mempunyai kelainan pigmen atau memutihnya kulit. Sarung tangan yang menutupi tangan kanannya, katanya untuk menutupi pigmen asing yang mulai menjalar dari sana. Ah, mau berbual apa pun, tetap saja tudingan itu sudah melekat padanya. Kacang lupa pada kulitnya. Read the rest of this entry »
























