Agrica

How to Save the Environment at Home

Posted by agrica on October 25, 2009

There are plenty of little steps that people can take at home to help save the environment. While the eco-footprint of each step is small, thousands of people doing the same thing can make a difference. In making some small changes to the way that you do things at home, you are gradually making a difference, even as an individual. You will kill costs and improve your health at the same time, so helping to save the environment isn’t a totally altruistic exercise!

Throughout the House

  1. Turn off appliances when you are not using them. Up to 30% of power used by TV’s is used while they are turned off, so buy power strips and just flip the switch on the power strip, because they use far less energy while turned off.
  2. Lower the thermostat by a few degrees in winter. An extra layer or blanket will not only keep you cozy but will help to reduce your electricity bill significantly.
  3. Make sure that the house is fully insulated. Insulation keeps the heat and cool on the correct side of your living space. Consider not only the ceiling but also the walls and under the floors.
  4. Use windows to regulate the temperature.
  5. Install ceiling fans instead of air conditioning units to keep rooms comfortable in warm weather.
  6. Fill the gaps. Gaps reduce energy efficiency in a home. By caulking gaps around windows and doors, you increase the ability of your house to retain heat and cool at the right times of year, allowing your heating and cooling systems to work less.
  7. Switch to compound fluorescent lightbulbs. They last longer and consume one-quarter of the energy. Lately, LED lamps have started to pick up the pace too — they are up to ten times as effective as fluorescent, and totally blow incandescent bulbs off the charts.
  8. Turn off the lights. Always turn off the lights when you are not using them. Rooms that are lit with nobody in them are wasteful.

In the Kitchen

  1. Recycle, recycle, recycle. Some cities already require people to sort their trash into paper, metals, glass, and organic waste. Even if your city doesn’t, you can launch a growing trend. Set up four separate waste baskets, and make sure the contents end up in the appropriate recycle bins.
  2. Air dry your dishes. Stop the dishwasher before the dryer cycle commences. Leave the door slightly ajar (or more open if you have the space) and let the dishes air-dry. The drying cycle of the dishwasher consumes a lot of energy.
  3. Avoid Creating Trash. Avoid disposable products, such as plates, cups, napkins and cutlery. Use reusable towels and dishwashing cloths in place of paper towels and disposable dish sponges. Read the rest of this entry »

Posted in lingkungan | Tagged: | Leave a Comment »

Global Warming Hoax

Posted by agrica on October 13, 2009

Pertemuan G-20 baru saja usai. Pemanasan global adalah salah satu topik utama yang dibicarakan. Para pemimpin dunia menyerukan dunia bersatu untuk melawan pemanasan global yang diperkirakan akan membawa bumi pada suhu mematikan di tahun 2100. Kita bisa melihat usaha pemimpin negara G-20 melawan pemanasan global menjadi headline di berbagai media utama di dunia. Namun entah kenapa hampir tidak ada media massa yang meliput pidato Prof. Mojib Latif pada konferensi PBB mengenai iklim bumi di Jenewa pada awal September 2009 kemarin.

Beberapa waktu sebelumnya, saya pernah menulis mengenai Teori konspirasi Pemanasan Global. Dalam tulisan itu saya menceritakan bahwa pandangan Al Gore mengenai pemanasan global yang diterima oleh banyak orang ternyata mendapat tentangan dari banyak ilmuwan. Salah satu penyebabnya adalah adanya data penelitian yang menunjukkan bahwa bumi tidak mengalami pemanasan global dalam dekade ini. Nah kali ini, Al Gore dan pendukungnya kembali mendapat tamparan, bukan dari lawan politiknya, melainkan dari salah seorang ilmuwan yang pro dengannya.

Umumnya jika seorang ilmuwan mengubah pandangan ilmiahnya dengan drastis, maka media massa akan meliputnya secara besar-besaran. Namun tidak kali ini. Pidato Prof. Mojib Latif hampir lolos dari perhatian dunia.

Prof. Latif adalah seorang ilmuwan dari Leibniz Institute of Marine Sciences di Jerman. Ia adalah seorang pendukung utama teori yang mengatakan bahwa emisi rumah kaca yang dihasilkan manusia telah menyebabkan peningkatan suhu global di bumi. Ia turut serta dalam menciptakan model iklim yang menjadi patokan bagi banyak peneliti di dunia. Ia juga pernah menerima beberapa penghargaan dalam studi mengenai iklim dan ia adalah seorang peneliti utama di IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), sebuah badan milik PBB yang pada tahun 2007 menerima nobel perdamaian bersama Al Gore. Read the rest of this entry »

Posted in iseng, lingkungan | Tagged: , , | 1 Comment »

Sinking hole (luweng), fenomena tanah ambles..

Posted by agrica on April 30, 2009

Tanah amblas dalam bahasa geologinya sering disebut sinkhole. Sinkhole atau luweng ini sering terjadi pada daerah yang batuan dasarnya (bedrock) berupa batugamping. Menakutkan yak…gimana kalo pas berdiri diatas permukaan tanah tiba2 BLUNG!!! tanahnya ambes masuk di telan bumi… ..Biasanya tanah amblas tidak terjadi seketika…ada tanda2 kalo tanah akan amblas..eit, tunggu dulu fenomena sinkhole dapat juga terjadi dalam waktu sekejab.. (ini yang ditakutin) bakal lenyap ditelen bumi..

1. Pertama ini terjadi pada daerah yang batuan dasarnya (bedrock-nya” adalah batugamping.

2. Gejala-gejala sebelum terjadinya amblesan ini sering didahului oleh gejala-gejala perubahan sitem hydrologi. Adanya danau baru segera setelah hujan (air limpasan) terutama pada daerah cekungan.

3. Dijumpai retakan-retakan tanah. Misalnya pohon-pohon yang miring menuju kearah titik yang sama (pusat amblesan), pintu susah ditutup karena mleyot-mleyot. Read the rest of this entry »

Posted in lingkungan | Tagged: , , | Leave a Comment »

Dampak Global Warming bagi Bumi

Posted by agrica on February 22, 2009

Fakta #1: Mencairnya es di kutub utara & selatan
Pemanasan Global

berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton! Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya!

Mencairnya es saat ini berjalan jauh lebih cepat dari model-model prediksi yang pernah diciptakan oleh para ilmuwan. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya.

Para ilmuwan mengakui bahwa ada faktor-faktor kunci yang tidak mereka ikutkan dalam model prediksi yang ada. Dengan menggunakan data es terbaru, serta model prediksi yang lebih akurat, Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NASA membuat prediksi baru yang sangat mencengangkan:

HAMPIR SEMUA ES DI KUTUB UTARA AKAN LENYAP PADA AKHIR MUSIM PANAS 2012!

Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh. Read the rest of this entry »

Posted in iseng, lingkungan | Tagged: , , | 7 Comments »

Konservasi dan Pengelolaan Sungai

Posted by agrica on January 15, 2009

Lapisan air menduduki 2/3 dari luas keseluruhan bumi kita ini, sedangkan sisanya berupa daratan. Pada dasarnya jumlah air yang terdapat di bumi kita tidak pernah habis, dan air mengalami daur (siklus) yang tiada henti-hentinya berlangsung secara periodik yang siklusnya dipengaruhi oleh sinar matahari, angin, tanaman, pegunungan dll.

Indeks ketersediaan air semakin menurun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, salah satu tandanya yaitu defisitnya DAS. Mengingat hal tersebut maka perlu dilakukan peningkatan ketersediaan air. Salah satu solusinya yaitu mengambil langkah-langkah pengembangan teknologi, penyediaan air, pelestarian sumber daya air dan meningkatkan konservasi air dan pengelolaan sungai.

1. Konservasi daerah pengaliran sungai

Konservasi ini dilakukan karena maraknya eksploitasi sumberdaya alam tanah, hutan, dan air. Dampaknya akan mengubah tata air seperti banjir, kekeringan, serta meningkatnya laju erosi dan sedimentasi. Teknologi yang dilakukan dalam konservasi ini yaitu metode Vegetatif dan metode Teknik Sipil.

Metode vegetatif yaitu menggunakan tanaman untuk mengurangi daya perusak hujan yang jatuh, sehingga mengurangi aliran permukaan dan erosi. Yang termasuk dalam metode ini yaitu reboisasi yaitu penanaman pohon di kawasan hutan dan luar hutang dengan menggunakan tanaman tahunan

Metode sipil yaitu pembuatan bangunan sipil untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kegunaan tanah, serta memperbesar infiltrasi air kedalam tanah. Yang termasuk dalam metode ini yaitu : bendungan pengendali, waduk, tanggul, teras, pembuatan irigasi pada daerah pertanian, guludan, dll. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , , , , | 1 Comment »

Aluminium (Al)

Posted by agrica on January 14, 2009

Aluminium oksida adalah sebuah senyawa kimia dari aluminium dan oksigen, dengan rumus kimia Al2O3. Nama mineralnya adalah alumina, dan dalam bidang pertambangan, keramik dan teknik material senyawa ini lebih banyak disebut dengan nama alumina.

Sifat-sifat

Aluminium oksida adalah insulator (penghambat) panas dan listrik yang baik. Umumnya Al2O3 terdapat dalam bentuk kristalin yang disebut corundum atau α-aluminum oksida. Al2O3 dipakai sebagai bahan abrasif dan sebagai komponen dalam alat pemotong, karena sifat kekerasannya.

Aluminium oksida berperan penting dalam ketahanan logam aluminium terhadap perkaratan dengan udara. Logam aluminium sebenarnya amat mudah bereaksi dengan oksigen di udara. Aluminium bereaksi dengan oksigen membentuk aluminium oksida, yang terbentuk sebagai lapisan tipis yang dengan cepat menutupi permukaan aluminium. Lapisan ini melindungi logam aluminium dari oksidasi lebih lanjut. Ketebalan lapisan ini dapat ditingkatkan melalui proses anodisasi. Beberapa alloy (paduan logam), seperti perunggu aluminium, memanfaatkan sifat ini dengan menambahkan aluminium pada alloy untuk meningkatkan ketahanan terhadap korosi.

Al2O3 yang dihasilkan melalui anodisasi bersifat amorf, namun beberapa proses oksidasi seperti plasma electrolytic oxydation menghasilkan sebagian besar Al2O3 dalam bentuk kristalin, yang meningkatkan kekerasannya. Read the rest of this entry »

Posted in ilmu tanah | Tagged: , | Leave a Comment »

Resolusi Citra

Posted by agrica on January 14, 2009

Citra

Citra

Interpretasi secara digital adalah evaluasi kuantitatif tentang informasi spektral yang disajikan pada citra. Dasar interpretasi citra digital berupa klasifikasi citra pixel berdasarkan nilai spektralnya dan dapat dilakukan dengan cara statistik. Dalam pengklasifikasian citra secara digital, mempunyai tujuan khusus untuk mengkategorikan secara otomatis setiap pixel yang mempunyai informasi spektral yang sama dengan mengikutkan pengenalan pola spektral, pengenalan pola spasial dan pengenalan pola temporal yang akhirnya membentuk kelas atau tema keruangan (spasial) tertentu.

Di dalam Penginderaan Jauh ada 4 istilah resolusi yakni:

  1. Resolusi Spasial
  2. Resolusi spektral
  3. Resolusi Temporal
  4. Resolusi Radiometrik

a. Resolusi Spasial

Ialah ukuran terkecil obyek yang dapat direkam oleh suatu sistem sensor. Dengan kata lain maka resolusi spasial mencerminkan kerincian informasi yang dapat disajikan oleh suatu sistem sensor. Ada dua cara menyatakan resolusi spasial, yakni: resolusi citra dan resolusi medan. Read the rest of this entry »

Posted in GIS / Remote Sensing | Tagged: , , , , , , | 1 Comment »

Perbedaan Peta dengan Citra

Posted by agrica on January 14, 2009

Kemajuan teknologi dewasa ini berpengaruh besar dalam perpetaan. Banyak modul-modul permukaan bumi yang mirip sekali dengan peta yang dihasilkan dari perekaman jarak jauh yang dikenal dengan citra penginderaan jauh. Citra penginderaan jauh, antara lain foto udara, citra Landsat, citra SPOT, citra Radar dan citra IKANOS. Walaupun citra penginderaan jauh mirip dengan peta, namun pada dasarnya ada beberapa perbedaan penting yaitu.


PETA


CITRA PENGINDERAAN JARAK JAUH

1.

Penyajian peta yang selektif

Kenampakan penting yang dipilih akan ditonjolkan secara jelas, sesuai dengan tujuan pemetaannya.

Informasi yang diperlukan telah disadap oleh pembuat peta, misalnya peta geologi, peta jaringan jalan.

Pengguna peta harus memiliki ketrampilan dalam membaca peta.

2. merupakan hasil dari proses generalisasi. Proses ini merupakan hal yang fundamental dalam Kartografi, misalnya pada skala 1 : 50.000, terdapat kenampakkan lebar jalan 5 m. Apabila kenampakkan jalan tersebut dianggap penting maka tetap akan digambarkan dengan pembesaran (exageration).
3. Peta secara planimetrik mempunyai ketelitian tinggi, karena sifat proyeksinya yang ortogonal. Ortogonal artinya skala di berbagai bagian pada peta tetap sama, terutama pada skala besar. Sistem proyeksi peta yang digunakan mempunyai karakteristik yang sudah diketahui, terutama kesalahan (distorsi) skalanya dan faktor kesalahan bentuk.

4.

Meskipun telah dilakukan pengelompokkan data atau penggunaan simbol tertentu yang dapat membedakan obyek yang satu dengan obyek lain, masing-masing obyek masih dapat dibedakan warnanya sesuai dengan keinginan pembuat petai.

1. Penyajian citra penginderaan jauh tidak selektif (unselective). Apa saja yang dapat direkam oleh sensor akan terlihat atau tampak, ketidakselektifan ini membawa beberapa konsekuensi, antara lain:

Kenampakan-kenampakan penting sulit dilihat.

Mungkin menonjol pada kenampakan yang tidak diperlukan bagi suatu penelitian, contoh vegetasi yang tampak menonjol bagi kepentingan geologi atau lainnya.

Pengguna harus mempunyai ketrampilan dalam hal menyadap informasi yang diperlukan.

2.

Citra penginderaan jauh merupakan gambar kenampakan yang tidak tergeneralisasi (not generalised). Misalnya pada skala 1 : 50.000, jalan dengan lebar 10 m digambarkan dengan ukuran 0,2 mm. Sekalipun ukurannya sangat kecil, kenampakan jalan tersebut masih terlihat pada citra penginderaan jauh. Pada peta skala 1 : 50.000, kenampakan jalan dengan lebar 10 m seharusnya berukuran 0,2 mm. Apabila jalan tersebut merupakan kenampakkan yang penting maka kenampakan jalan akan tetap ditonjolkan. Misalnya digambarkan dengan ukuran 1 mm.

3.

Citra penginderaan jauh mengandung ketidaktelitian dalam hal ukuran planimetriknya, terutama foto udara yang mempunyai proyeksi sentral. Walaupun hal ini tidak mengganggu interoretasi, namun dalam memplotkan hasil interpretasi pada peta akan mengalami kesulitan. Hal ini karena skalas di berbagai bagian tidak sama. Teknik-teknik memindahkan hasil interpretasi ke dalam peta memerlukan alat yang mahal, seperti rectifier, zoom transfercope, camera, stereo, plotter analytical. Analog, dan optical photograph.

4.

Warna (tone) dikandung dalam citra penginderaan jauh tergantung pada jenis spektral dan keadaan masing-masing obyek. Adakalanya refleksi rumah dan jalan yang ditangkap sensor menghasilkan rona yang sama, walaupun dapat dibedakan bentuknya. Untuk itu, perlu dilakukan pengujian kebenaran interpretasinya.

Posted in GIS / Remote Sensing | Tagged: , , , , , , , | 2 Comments »

Pengertian Istilah Citra

Posted by agrica on January 14, 2009

Berikut akan disampaikan dengan singkat pengantar pengolahan citra, yang terdiri dari pengenalan terminologi dasar bagi pengolahan citra serta konsep dari beberapa langkah yang paling umum dilalui dalam pengolahan citra. Setelah data dikumpulkan dan dikirimkan ke stasiun penerima, data tersebut harus diproses dan diubah ke dalam format yang bisa diinterpretasi oleh peneliti. Untuk itu data harus diproses, ditajamkan dan dimanipulasi. Teknik-teknik tersebut disebut pengolahan citra.

  1. Mengubah Data Menjadi Citra

Data citra satelit dikirim ke stasiun penerima dalam bentuk format digital mentah merupakan sekumpulan data numerik. Unit terkecil dari data digital adalah bit, yaitu angka biner, 0 atau 1. Kumpulan dari data sejumlah 8 bit data adalah sebuah unit data yang disebut byte, dengan nilai dari 0 – 255. Dalam hal citra digital nilai level energi dituliskan dalam satuan byte. Kumpulan byte ini dengan struktur tertentu bisa dibaca oleh software dan disebut citra digital 8-bit.

  1. Karakteristik Citra
    • Pixel

Pixel (picture element) adalah sebuah titik yang merupakan elemen paling kecil pada citra satelit. Angka numerik (1 byte) dari pixel disebut digital number (DN). DN bisa ditampilkan dalam warna kelabu, berkisar antara putih dan hitam (gray scale), tergantung level energi yang terdeteksi. Pixel yang disusun dalam order yang benar akan membentuk sebuah citra. Kebanyakan citra satelit yang belum diproses disimpan dalam bentuk gray scale, yang merupakan skala warna dari hitam ke putih dengan derajat keabuan yang bervariasi. Untuk PJ, skala yang dipakai adalah 256 shade gray scale, dimana nilai 0 menggambarkan hitam, nilai 255 putih. Dua gambar di bawah ini menunjukkan derajat keabuan dan hubungan antara DN dan derajat keabuan yang menyusun sebuah citra.

Untuk citra multispectral, masing masing pixel mempunyai beberapa DN, sesuai dengan jumlah band yang dimiliki. Sebagai contoh, untuk Landsat 7, masing-masing pixel mempunyai 7 DN dari 7 band yang dimiliki. Citra bisa ditampilkan untuk masing-masing band dalam bentuk hitam dan putih maupun kombinasi 3 band sekaligus, yang disebut color composites. Gambar di bawah ini menunjukkan composite dari beberapa band dari potongan Landat 7 dan pixel yang menyusunnya. Read the rest of this entry »

Posted in GIS / Remote Sensing | Tagged: , , , , , , | Leave a Comment »

Daftar Istilah Penginderaan Jauh / Remote Sensing

Posted by agrica on January 13, 2009



Istilah

Keterangan</TH< tr>

Penginderaan Jauh

Pengumpulan dan pencatatan informasi tanpa kontak langsung pada julat elektromagnetik ultraviolet, tampak, inframerah dan mikro dengan mempergunakan peralatan seperti penyiam (scanner) dan kamera yang ditempatkan pada wahana bergerak seperti pesawat udara atau pesawat angkasa dan menganalisis informasi yang diterima dengan teknik interpretasi foto, citra dan pengolahan citra (Fussel, Rundquist dan Harrington, 1986). Istilah ini juga memiliki pengertian yang sama untuk Remote Sensing (Inggris), Teledetection (Perancis) dan Sensoriamento Remoto (Spanyol)

Satelit (Oxford, Miriam Webster, Britannica)

  • yang selalu mengikuti (minion, sycophant)
  • benda angkasa (alam/buatan) yang mengitari benda angkasa lain yang berukuran lebih besar
  • benda buatan / kendaraan yang dirancang mengitari bumi, bulan atau benda angkasa lain
  • seseorang yang selalu mengikuti, bergantung atau mengekor (khususnya dalam politik kenegaraan)
  • suatu masyarakat perkotaan mandiri yang terpisah dari kota induk.

</TD< tr>

Orbit (Oxford, Miriam Webster, Britannica)

  • Bidang eliptik yang ditempuh benda angkasa secara reguler
  • Jalur (trajectory) yang ditempuh satelit ketika mengitari bumi
  • Medan/lingkungan kegiatan atau pengaruh

</TD< tr>

Orbit geostasioner (sinkron bumi)

Orbit suatu benda angkasa yang sedemikian hingga posisi benda tersebut terhadap satu titik di permukaan bumi tetap. Orbit ini mengharuskan kecepatan angular satelit sama dengan kecepatan angular bumi</TD< tr>

Orbit sinkron matahari (sunsynchronous)

Orbit suatu banda angkasa yang sedemikian hingga kemunculan satelit di atas suatu lokasi terjadi pada waktu matahari yang sama</TD< tr>

Nadir

Titik yang berada tepat tegak lurus satelit di permukaan bumi</TD< tr>

Zenit

Titik yang berada tepat tegak lurus satelit</TD< tr>

Perangkat pengindera

  • Perangkat yang dipergunakan untuk mengindera permukaan bumi dengan metode tertentu pada spectrum dan resolusi tertentu. Perangkat pengindera dapat berupa pengindera pasif, (hanya menyerap energi yang datang dari alam sekitar, seperti spectrum ultra ungu, tampak, infra merah, termal dan gelombang mikro pasif); serta pengindera aktif (sumber energi dibangkitkan oleh perangkat pengindera yang bersangkutan, seperti RADAR, LASER dan LIDAR). Tipe perangkat pengindera dapat berupa radiometer, sensor magnetic, gravimeter, spectrometer, kamera (fotografis/video/digital), scanner, altimeter, laser distance meter, radar dll.
  • Perangkat yang mengumpulkan energi, mengubahnya menjadi nilai digital dan menyajikannya menjadi bentuk yang sesuai untuk mendapatkan informasi tentang lingkungan sekitar.

</TD< tr>

Citra

Gambaran kenampakan permukaan bumi hasil penginderaan pada spectrum elektromagnetik tertentu yang ditayangkan pada layar atau disimpan pada media rekam/cetak</TD< tr>

Citra Satelit

Citra hasil penginderaan suatu jenis satelit tertentu</TD< tr>

Foto

Penginderaan suatu objek melalui lensa kamera dan merekam datanya pada suatu lapisan selulosa peka cahaya</TD< tr>

Foto digital

Foto yang tidak mempergunakan lapisan selulosa untuk merekam data tetapi mempergunakan lapisan peka cahaya yang dihubungkan dengan media rekam digital</TD< tr>

Foto udara

Foto yang diambil dari wahana pesawat layang atau pesawat terbang</TD< tr>

Foto satelit

Foto yang diambil dari wahana ruang angkasa</TD< tr>

RADAR

Radio Detection and Ranging. Pertama kali dipergunakan untuk keperluan pendeteksian pesawat terbang, baru kemudian dikembangkan untuk penginderaan jauh. Spektrum yang dipergunakan terdiri dari P (30-100cm), L (15-30cm), S (7.5-15cm), C (3.75-7.5cm), X (2.4-3.75cm), Ku (1.67-2.4cm), K (1.1-1.67cm), dan Ka (0.75-1.1cm). Tidak seperti citra lainnya, citra Radar harus mengalami transformasi terlebih dulu sebelum dapat dianalisis visual</TD< tr>

SLAR

Sideways Looking Airborne Radar. Radar yang diusung oleh pesawat terbang dengan antena dipasang menghadap ke samping. Peningkatan kualitas resolusi dilakukan dengan memperpanjang antenna. Sistem ini dinamakan juga Real Aperture Radar</TD< tr>

SAR

Synthetic Aperture Radar. Sistem yang berupaya meningkatkan resolusi citra RADAR dengan memasang antenna jamak. Pada aplikasi penginderaan jauh, fungsi antena jamak digantikan dengan pergerakan wahana.</TD< tr>

IFSAR

Interferometric Synthetic Aperture Radar. Sistem yang berupaya meningkatan resolusi citra RADAR (SAR) dengan dengan metode interferometri</TD< tr>

Polarimetri

Upaya peningkatan kemampuan pengenalan karakteristik objek dengan mengubah polarisasi arah pancaran dan penerimaan sinyal Radar.</TD< tr>

LASER

Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan intensitas pancaran cahaya pada spectrum tertentu sehingga mampu mencapai jarak yang jauh dan terarah dengan tepat dengan suatu perangkat.</TD< tr>

LIDAR

Light Detection and Ranging. Sistem ini berbasis pengukuran jarak dengan perangkat LASER. Biasanya dimanfaatkan untuk pemetaan kontur topografis dan batimetris (laut dangkal)</TD< tr>

Resolusi

  • Ukuran ketelitian data citra satelit
  • Kemampuan menampilkan sejumlah pixel pada layer tayangan
  • Kemampuan semua jenis pengindera (lensa, antenna, tayangan, bukaan rana, dll.) untuk menyajikan citra tertentu dengan tajam. Ukuran dapat dinyatakan dengan baris per mm atau meter. Pada citra RADAR resolusi biasa dinyatakan dalam lebar pancaran efektif dan panjang jangkauan. Pada citra infra merah resolusi biasa dinyatakan dalam IFOV. Resolusi juga dapat dinyatakan dalam perbedaan temperatur atau karakter lain yang mampu diukur secara fisik (Manual of Remote Sensing).

</TD< tr>

Resolusi spectral

Julat (range) spectrum elektromagnetik yang dipergunakan oleh perangkat pengindera. Secara sederhana, spectrum elektromagnetik yang dimanfaatkan untuk mengindera permukaan bumi terdiri dari spectrum ultra ungu, tampak (ungu=0.440-0.446;biru=.0446-.500; hijau=0.500-0.578; kuning=0.578-0.592; jingga=0.592-0.620; merah=0.620-0.700), infra merah dekat (reflektif), infra merah tengah (inframerah gelombang pendek/reflektif dan emisif), infra merah termal (emisif) dan gelombang mikro, juga LASER dan LIDAR. Pada beberapa kasus, spectrum tersebut masih dibagi lagi menjadi julat yang lebih sempit.</TD< tr>

Resolusi spasial

Ukuran objek terkecil yang dapat dibedakan dengan objek lain. Pada citra raster berarti ukuran 1 (satu) pixel data di lapangan. Pada citra optik (fotografik) dapat diartikan ukuran 1 (satu) detik busur medan pandang di lapangan</TD< tr>

Resolusi temporal

Ukuran perulangan pengambilan data oleh satelit tersebut pada lokasi yang sama di permukaan bumi</TD< tr>

Resolusi radiometrik

Julat (range) representasi/kuantisasi data, biasanya dipergunakan untuk format raster. Julat tersebut dapat berupa 2 bit (0-1), 3 bit (0-3), 4 bit (0-15), 5 bit (0-31), 6 bit (0-63), 7 bit (0-127), 8 bit (0-255), 10 bit (0-1023), 16 bit (0-65535)</TD< tr>

Dot pitch

  • Ukuran titik terkecil pada hasil cetakan, biasanya dinyatakan dalam dot per inch (dpi)
  • Ukuran satu pixel pada layar tayang, biasanya dinyatakan dalam mm

</TD< tr>

Pandangan sinoptik

Kemampuan melihat atau mengukur suatu wilayah dalam waktu dan kondisi yang sama</TD< tr>

Band

  • Disebut juga channel atau saluran. Suatu julat spectrum elektromagnetik yang dirancang untuk kepentingan misi tertentu pada sebuah pengindera. Sebuah pengindera sekurang-kurangnya memiliki satu saluran.
  • Sekumpulan data berisi nilai-nilai yang disimpan dalam suatu berkas (file) yang menggambarkan spectrum elektromagnetik tertentu.
  • Sekumpulan data berisikan hasil proses (penisbahan, penambahan, dll.) band-band yang lain.

</TD< tr>

Layer

Suatu liputan geografis yang berisikan jenis informasi tertentu. Bermacam jenis informasi pada liputan geografis yang sama disebut multi layer. Untuk konteks citra penginderaan jauh digital, layer dan band mengandung pengertian yang sama. </TD< tr>

Multispektral

Perangkat pengindera yang terdiri atas kurang dari 10 (sepuluh) spectrum elektromagnetik yang berbeda</TD< tr>

Hyperspektral

Perangkat pengindera yang terdiri atas lebih dari 10 (sepuluh) spectrum elektromagnetik yang berbeda</TD< tr>

Stasion Bumi

Stasiun yang berfungsi mengendalikan operasi satelit, mengendalikan komunikasi satelit serta menerima/mengirimkan data hasil penginderaan satelit. Sebuah stasiun bumi sekurang-kurangnya terdiri dari system antenna (beserta pengarahnya) dan komputer pengendali.</TD< tr>

Wahana

Benda buatan manusia yang berpijak pada perangkat (menara, kran, pohon, tangga, bukit dll.), yang melayang, yang terbang di atas permukaan bumi (wahana dirgantara) atau mengorbit bumi (wahana angkasa) yang dipergunakan sebagai landasan perangkat pengindera. Benda yang melayang biasanya berupa balon udara. Benda yang terbang dapat berupa pesawat terbang atau pesawat layang baik berawak maupun tidak. Benda yang mengorbit dapat berupa satelit, pesawat ruang angkasa maupun stasiun ruang angkasa. Benda yang mengorbit tersebut dirancang untuk penginderaan bumi (sumberdaya alam, cuaca, militer), penginderaan angkasa, komunikasi, penentuan posisi (GPS), dll.</TD< tr>

Landsat

Seri satelit sumberdaya alam milik NASA (Amerika Serikat). Sebelumnya bernama Earth Resources Technology Satellite (ERTS). Landsat 1 diluncurkan 23 Juli 1972, diikuti kemudian oleh Landsat 2 (22 Januari 1975), Landsat 3 (5 Maret 1978). Satelit ini mengusung pengindera MSS dan RBV. Pengindera ini berkembang menjadi TM (Landsat 4 dan 5) kemudian ETM+ (Landsat 7)</TD< tr>

RBV

Return Beam Vidicon. Kamera RBV terdiri dari:

  • RBV 1 0.46 – 0.59 (biru hijau)
  • RBV 2 0.58 – 0.69 (kuning merah)
  • RBV 3 0.66 – 0.83 (merah infra merah)

</TD< tr>

MSS

Multi Spectral Scanner. Pengindera MSS terdiri dari:

  • MSS 1 0.5 – 0.6 80m
  • MSS 2 0.6 – 0.7 80m
  • MSS 3 0.7 – 0.8 80m
  • MSS 4 0.8 – 1.1 80m

</TD< tr>

TM

Thematic Mapper. Pengindera TM terdiri dari:

  • TM 1 0.45 – 0.52 30m (biru)
  • TM 2 0.52 – 0.60 30m (hijau)
  • TM 3 0.63 – 0.69 30m (merah)
  • TM 4 0.76 – 0.90 30m (infra merah dekat)
  • TM 5 1.55 – 1.75 30m (infra merah gelombang pendek/SWIR)
  • TM 6 10.40 – 12.50 120m (infra merah thermal)
  • TM 7 2.08 – 2.35 30m (infra merah tengah)

</TD< tr>

ETM+

Enhanced Thematic Mapper Plus. Pengindera ETM+ pada dasarnya masih sama dengan pengindera TM. Perbedaannya adalah ETM 6 ditingkatkan resolusinya menjadi 60m dan penambahan satu band pankromatik (0.52 – 0.90) dengan resolusi 15m</TD< tr>

SPOT

Satellite Pour l’Observation de la Terre (sebelum diluncurkan huruf P berarti Probatoire, setelah diluncurkan menjadi Pour). Seri satelit milik CNES, Perancis. Satelit ini mengusung pengindera HRV (SPOT 1,2,3,4) kemudian dikembangkan menjadi HRG (SPOT 5). Satelit ini mengorbit pada ketinggian 830km, inklinasi 80, sekitar 101menit/revolusi dan resolusi temporal 26 hari</TD< tr>

HRV

Haute Resolution Visible. Pengindera HRV terdiri dari dua kelompok, yaitu P (panchromatic) dan XS (multi spetral). Rinciannya adalah sbb.:

  • P 0.51 – 0.73 10m
  • XS1 0.5 – 0.59 20m (hijau)
  • XS2 0.61- 0.68 20m (merah)
  • XS3 0.79- 0.89 20m (inframerah dekat)

</TD< tr>

HRG

Haute Resolution Geographique</TD< tr>

VGT

Végetation. Pengindera tambahan yang diusung oleh SPOT 4 dengan rincian:

  • B 0 0.430 – 0.470 1160m (biru)
  • B 1 0.610 – 0.680 1160m (merah)
  • B 2 0.790 – 0.890 1160m (inframerah dekat)
  • B 3 1.580 – 1.750 1160m (inframerah gelombang pendek)

Pengindera ini mempergunakan metode penyiaman elektronik (CCD) </TD< tr>

IRS

Seri satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari milik India</TD< tr>

ADEOS

Advanced Earth Observing Satellite. Satelit sumberdaya alam milik NASDA, Jepang dengan misi pemantauan lingkungan global, ozon atmosfer dan gas pemicu pemanasan global. Diluncurkan Agustus 1996 dengan orbit sinkron matahari dan periode revolusi 101 menit, mengusung pengindera AVNIR (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer), OCTS, NSCAT, TOMS, POLDER, IMG, ILAS dan RIS. ADEOS I diluncurkan tahun 2001 dan mengusung pengindera AMSR, GLI, SeaWinds, POLDER, ILAS-II, PDL, C&DH, IOCS, MDP, DTL, DTL-ANT, DT, CCR, DCS, DCS-ANT, dan ESA</TD< tr>

AVNIR

Advanced Visible and Near Infrared Radiometer. Pengindera terdiri dari:

  1. 16m (biru)
  2. 16m (hijau)
  3. 16m (merah)
  4. 16m (inframerah dekat)
  5. 8m (pankromatik)

Pengindera mempergunakan metode penyiaman elektronik (CCD) </TD< tr>

OCTS

Ocean Color and Temperature Scanner. Pengindera terdiri dari:

  1. 700m
  2. 700m
  3. 700m
  4. 700m
  5. 700m
  6. 700m
  7. 700m (inframerah dekat)
  8. 700m (inframerah dekat)
  9. 700m (inframerah tengah)
  10. 700m (inframerah tengah)
  11. 700m (inframerah tengah)

Pengindera mempergunakan metode penyiaman mekanik </TD< tr>

IMG

Interferometric Monitor for Greenhouse Gases. Pengindera terdiri dari:

  1. 3.3 – 4.3
  2. 4.0 – 5.0
  3. 5.0 – 14.0

</TD< tr>

ALOS

Advanced Land Observing Satellite. Seri satelit sumberdaya alam milik NASDA, Jepang, diluncurkan awal 2003</TD< tr>

ERS

Seri satelit Radar berorbit sinkron matahari milik ESA</TD< tr>

JERS

Japan E.. Resources Satellite. Seri satelit Radar berorbit sinkron matahari milik NASDA, Jepang, biasa dipanggil Fuyo-1</TD< tr>

Radarsat

Satelit Radar milik Canada </TD< tr>

Almaz

Seri satelit Radar milik Russia</TD< tr>

GMS

Geostationary Meteorological Satellite. Satelit cuaca berorbit geostasioner milik NASDA, Jepang, biasa dipanggil Himawari. Satelit GMS-5 diluncurkan awal 1995. Misi utama adalah melakukan pengamatan kontinyu terhadap atmosfer dan informasi meteorology permukaan bumi melalui perangkat VISSR. Orbit satelit ini berada di atas bujur 1400E dan mengirimkan data ke bumi setiap 30 menit.</TD< tr>

NOAA

National Oceanic and Atmospheric Administration. Satelit berorbit sinkron matahari milik NOAA, Amerika Serikat yang misi utamanya adalah pemantauan cuaca. Satelit NOAA dikembangkan dari seri satelit TIROS (Television and Infrared Observation ). Satelit TIROS kemudian digantikanmenjadi TOS (TIROS Operational System) yang kemudian menjadi seri ESSA (Environmental Science Service Administration). ESSA kemudian dikembangkan menjadi seri ITOS (Improved TIROS Operational System) disusul seri NOAA. Seri satelit NOAA terdiri dari generasi I (TIROS-N/NOAA 1-5), generasi II (Advanced TIROS-N/ATN/NOAA 6-14) dan generasi III (NOAA K, L, M). Pengindera yang diusung satelit ini pada umumnya adalah AVHRR (pengembangan dari VHRR) dan TOVS (TIROS Operational Vertical Sounder). Setiap satelit biasanya juga masih mendapatkan tambahan perangkat pengindera lain sesuai dengan misi.</TD< tr>

Foto satelit

Foto yang diambil dari wahana ruang angkasa</TD< tr>

AVHRR

Advanced Very High Resolution Radiometer. Pengindera AVHRR terdiri dari:

  1. 0.58 – 0.68 1100m (merah)
  2. 0.725- 1.1 1100m (inframerah dekat)
  3. 3.55 – 3.93 1100m (inframerah tengah)
  4. 10.3 – 11.3 1100m (inframerah termal)
  5. 11.5 – 12.5 1100 m (inframerah termal)

Pengindera AVHRR biasanya dimanfaatkan untuk studi atmosfer, tetapi kemudian juga berkembang untuk studi kelautan, es, juga kebakaran lahan. Format data yang disebarluaskan terdiri dari LAC (Local Area Coverage/ terekam dengan resolusi 1 km-10 bit data), GAC (Global Area Coverage/ terekam dengan resolusi 4 km-10 bit data) , HRPT (High Resolution Picture Transmission/ transmisi data langsung ke stasiun bumi dengan resolusi 1km-10 bit data) dan APT (Automatic Picture Transmission/ transmisi data langsung ke stasiun bumi dengan resolusi 1km – 8 bit data) </TD< tr>

TOVS

TIROS Operational Vertical Sounder</TD< tr>

NAVSTAR

Navigation Satellite Time and Ranging. Seri satelit GPS milik US Departement of Defense. Satelit ini tersusun dalam konstelasi yang terdiri atas 21 satelit aktif dan 3 cadangan. Konstelasi tersebut sedemikian hingga agihannya pada zenith merata.</TD< tr>

Terra

Satelit berorbit sinkron matahari milik NASA</TD< tr>

MODIS

Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer</TD< tr>

VISSR

Visible and Infrared Spin Scan Radiometer</TD< tr>

Ikonos

Satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari</TD< tr>

Quickbird

Satelit sumberdaya alam berorbit sinkron matahari</TD< tr>

Pengolahan Citra

Disebut juga image processing. Kegiatan manipulasi citra digital yang terdiri dari penajaman, rektifikasi dan klasifikasi.</TD< tr>

Triangulasi

Proses penentuan elemen penting (jarak dan sudut) untuk menentukan jaringan ikatan di permukaan bumi pada kegiatan survei objek untuk menentukan posisi relatif terhadap suatu wilayah</TD< tr>

Triangulasi udara

Proses triangulasi yang dilakukan untuk mendapatkan kontrol horizontal dan vertical pada foto udara</TD< tr>

Koreksi geometri

Kegiatan ini juga sering dinamakan rektifikasi. Memperbaiki kemencengan, rotasi dan perspektif citra sehingga orientasi, projeksi dan anotasinya sesuai dengan yang ada pada peta. Koreksi geometri terdiri dari koreksi sistematik (karena karakteristik alat) dan non sistematik (Karena perubahan posisi penginderaan). Koreksi sistematik biasanya telah dilakukan oleh penyedia data. Koreksi non sistematik biasanya dilakukan dengan suatu proses koreksi geometri. Proses ini memerlukan ikatan yang disebut titik kontrol medan (ground control point/GCP). GCP tersebut dapat diperoleh dari peta, citra yang telah terkoreksi atau tabel koordinat penjuru. GCP kemudian disusun menjadi matriks transformasi untuk rektifikasi citra.</TD< tr>

Ortorektifikasi

Upaya rektifikasi untuk memperbaiki pergeseran relief (relief displacement). Upaya ini memerlukan data DEM (digital elevation model). Ortorektifikasi tidak dibutuhkan pada daerah yang relative datar</TD< tr>

Matriks transformasi

Suatu kumpulan koefisien yang dihitung dari GCP dan dipergunakan untuk menyusun persamaan polynomial untuk mengubah koordinat dari satu system kepada system lainnya. Ukuran matriks tergantung ordo transformasi.</TD< tr>

Koreksi radiometri

Koreksi variasi data yang tidak disebabkan oleh objek diindera, tetapi oleh malfungsi pengindera atau interferensi atmosfer.</TD< tr>

Mosaik

Hasil penggabungan beberapa liputan citra dengan luasan kecil menjadi satu liputan citra dengan luasan lebih besar. Mosaik dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh tentang lokasi yang diamati.</TD< tr>

Penajaman citra

Proses perentangan kontras warna yang ditayangkan pada layer untuk memudahkan diferensiasi objek secara visual. Proses tersebut dapat mempergunakan metode peningkatan kontras, penajaman tepi, penapisan (filtering) dll.</TD< tr>

Filter

Alat yang dipergunakan untuk menapis/menyaring sesuatu sehingga diusahakan hanya menyisakan unsure-unsur yang diinginkan. Pada konteks Kimia, filter dapat berupa berupa zat dengan permeabilitas tertentu. Pada kontek Foto udara dapat berupa lapisan tembus cahaya berwarna tertentu untuk menyaring warna-warna tertentu. Pada konteks pengolahan citra dapat berupa suatu komposisi kernel yang jika dioperasikan pada suatu matriks citra akan mampu menonjolkan kenampakan tertentu (sesuai jenis filter/kernel yang dipakai).</TD< tr>

Klasifikasi

Proses pengolahan data citra menjadi peta tematik. Proses klasifikasi dapat berupa proses digital maupun proses manual.</TD< tr>

Elemen interpretasi

Elemen yang dipergunakan untuk menafsirkan suatu kenampakan pada citra. Elemen tersebut terdiri dari warna/rona, bentuk, ukuran, bayangan, pola, tekstur, struktur, situs dan asosiasi. Ada objek yang dapat ditentukan hanya dengan satu elemen saja, tetapi ada juga yang baru dapat ditentukan setelah mengaji sembilan elemen interpretasi.</TD< tr>

Klasifikasi digital

Proses klasifikasi dengan mempergunakan metode kalkulasi algoritmis. Proses klasifikasi digital dapat berupa klasifikasi terselia (supervised/penentuan objek ditentukan penafsir) atau tak terselia (unsupervised/penentuan objek diserahkan kepada komputer)</TD< tr>

Klasifikasi multispektral

Proses klasifikasi digital yang dilakukan dengan citra multispektral</TD< tr>

GPS

Global Positioning System. Sistem Penentuan Posisi Global, yang terdiri dari ruas angkasa (satelit NAVSTAR), ruas darat (stasiun pengendali bumi) dan ruas pengguna (penerima sinyal).</TD< tr>

Media rekam

Media yang dipergunakan sebagai penyimpan data penginderaan jauh. Media rekam dapat berupa media cetak, fotografis (negatif, diapositif dan positif) atau media yang dapat dibaca computer (CCT, Exabyte, Disket, CD-ROM, MO, DVD, dll.)</TD< tr>

CCT

Computer Compatible Tape. Pita magnetic yang dipergunakan untuk menyimpan data baik citra satelit maupun data lainnya. CCT untuk keperluan penginderaan jauh, biasanya dipro-duksi dalam format gulungan sepanjang 2400ft (+800m) dengan kepadatan 6250 bpi</TD< tr>

Exabyte

Pita magnetic sejenis dengan CCT tetapi disusun dalam format kaset 4mm dan 2mm</TD< tr>

Format rekam

Perekaman data penginderaan jauh dalam format computer, secara umum dapat dibagi menjadi BSQ (band sequential), BIL (band interleaved line by line) dan BIP (band interleaved pixel by pixel). Program perangkat lunak pengolah citra biasanya memilih salah satu dari ketiganya kemudian ditambahi informasi lain seperti koordinat, kalibrasi dll.</TD< tr>

False color composite

Paduan warna terdiri atas band 4 3 2 (Erdas Field Guide). Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

Pseudo color composite

Paduan warna terdiri atas band 5 4 2 (Erdas Field Guide) atau 5 4 3. Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

True color composite

Paduan warna terdiri atas band 3 2 1 (Erdas Field Guide). Contoh pada Satelit Landsat</TD< tr>

IFOV

Instantaneous Field of View. Medan pandang sesaat. Ukuran dari area yang dipandang oleh satu detector tunggal (satu pixel) pada system penyiam (scanning system) yang didapatkan dalam waktu sesaat.</TD< tr>

ILWIS

Integrated Land and Water Information System. Perangkat lunak pengolah data berbasis raster dan vector buatan ITC (International Institure for Aerospace Survey and Earth Sciences), Netherland. Sejak tahun pengembangan perangkat lunak ini masuk dalam kelompok PCI</TD< tr>

I2S

International Imaging System. Perangkat lunak pengolah data berbasis vector dan raster</TD< tr>

IDRISI

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster produksi Clark University, USA</TD< tr>

PCI Geomatics

Semula hanya bernama PCI, perangkat lunak pengolah data berbasis raster produksi PCI, Canada</TD< tr>

Erdas Imagine

Perangkat lunak pengolah data raster dan vector buatan Erdas, USA</TD< tr>

TNT Mips

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster</TD< tr>

MicroBrian

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster</TD< tr>

ER Mapper

Perangkat lunak pengolah data berbasis raster buatan Earth Resources Mapping, Australia</TD< tr>

ENVI

The Environment for Visualizing Images, perangkat lunak pengolah data raster buatan Research System Inc.</TD< tr>

Indeks vegetasi

Proses perhitungan matematis dengan penisbahan (rasio) saluran satu dengan yang lain dengan maksud menonjolkan karakteristik vegetasi pada lokasi tersebut. Indeks yang paling banyak dikenal adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dengan formulasi NDVI= (infra merah – merah) / (infra merah + merah). Indeks lain seperti Indeks Kehijauan (GI), Indeks Kecerahan (BI), Indeks Kebasahan (WI), Indeks Luas Daun (LAI) dll.</TD< tr>

NASA

National Aeronautics and Space Administration. Lembaga Penerbangan dan Ruang Angkasa Amerika Serikat</TD< tr>

NASDA

Lembaga Ruang Angkasa Jepang</TD< tr>

CNSA

Canadian Lembaga Ruang Angkasa Canada</TD< tr>

DLR

Deutsche Luchtvaart für Raumfahrt. Lembaga Ruang Angkasa Jerman</TD< tr>

LAPAN

Lembaga Penerbangan dan Ruang Angkasa Nasional, Indonesia</TD< tr>

CNES

Centre Nationale d’Etude Spatiales. Lembaga Kajian Angkasa Perancis</TD< tr>

ISRO

Indian Space Research Organization. Lembaga Kajian Ruang Angkasa India</TD< tr>

Daftar Pustaka:

  • Digital Image-Based Mapping Systems, International Imaging System
  • Encyclopedia Britannica ed 2001
  • ERDAS Imagine Field Guide
  • Fussel, J., D. Rundquist, J.A. Harrington, Jr., 1986, On Defining Remote Sensing, Photog. Eng & Remote Sensing, vol 52, pp 1507-1511
  • Howard, J.A., 1991, Remote Sensing of Forest Resources, Chapman & Hall
  • The Integrated Land and Watershed Information System (ILWIS), ITC
  • LIDAR Technology, Terra Point
  • Manual of Remote Sensing, 2nd ed
  • Miriam-Webster Dictionary
  • Oxford Dictionary
  • Remote Sensing, no.31, May 2000
  • SPOT Image, The Catalogue of SPOT products and services, SPOT Image
  • THEMAP Measuring and Mapping the Environment, EnerQuest System LLC
  • Tutorial of Training on The Potential and Use of Low to Moderate Resolution Remote Sensing, GIS Application Center, AIT


Sumber : www.geocities.com

Posted in GIS / Remote Sensing, ilmu tanah | Tagged: , , , , , , , | Leave a Comment »